
Kala semua kedip tertelan sirna cahayanya
Menyisakan gulita yang kerap mendarah
Mengalir menuju denyut nun detak yang selalu beriringan
Adakah sebulir reminisensi menyisa dalam diri?
Atau ia sendiri enggan menuju pergi…
Sepatah kata waktu renta terulang tak terkira
Alam pikir isi kepala bahkan tiada sanggup menampungnya!
Mungkin ada bila sejuta kali
Damba mengalunkan melodi menjalin persahabatan bersama sekon dari tiap penjuru rumah
Dinding-dinding kamar, tirai jendela, nyala lampu, hingga ranjang diri sendiri
Sporadis sudah kian tak memiliki degup
Tiap purnama, setengah bulan, hingga akhir pekan
Asmara menjadi-jadi berharap ulang berlaku pada menit yang terus berjalan,
Mendekap erat layaknya tali-tali menjerat tiada ampun!!
Hampir layu hingga tertemu impresi sederhana bergelimang harga
Begitu mahal nun tak sudi terjual
Biarpun mereka menaruh kesempatan menawan
Tak ada seberapanya pun dengan luar biasa harta karun era dimana relasi bermain bersama rindu-rindu…
Ironisnya bila hilang mungkin gila ketidakwarasan menari tak terkendali di ujung ruang waktu
Siap menenggelamkan dalam bahtera nestapa kedambaan.
Annisa Rahmasari