Visi
Senin, 04 Mar 2024
  • "Terwujudnya generasi pemimpin bangsa yang berkarakter, berprestasi dan berbudaya mutu"

Puisi untuk Pengurus Osis SMAN 2 Tanggul Periode 2019/2020

Diterbitkan : Senin, 9 November 2020

PURNA – karya Dewi Cheisya

Masa kita telah lalu,,, Sehelai daun jatuh dari ranting yang enggan ditinggalkan Angin dan hujan merampasnya jatuh di tanah berdebu Ingatkah kalian kala itu?

Di bawah rintik hujan ada canda yang seakan candu Namun,kali ini hujan seakan menjadi penutup lara nan pedih Masa demi masa menghilangkan waktu kita bersama, Dalam lautan mimpi yang telah kita lalui

Tetap kutekankan dalam benakku! Kita yang telah lalu bersama tak boleh jadi asing Beribu keringat dan kenangan yang masih diangan-angan Kan ku lukis kisah kita dengan tinta hitam bertulis,

 

PURNA ESOK KITA AKAN BUAT YUANG LEBIH LAGI – karya Luyzha Dita

Daun yang jatuh akan membenci angin Menyelinap pada akar-akar di malam hari Menghujani pada sekelebat taman ini Mengintip bebatangan yang membuatnya luruh diterpa sarayu

Langkahmu disudahi dengan sumpah-sumpah yang termaktub di lembar-lembar buku itu Menghujani mimpi-mimpi yang tertanam pada bunga-bunga di pekarangan itu

Mundur bukan berarti gugur Berdebu dan jatuh, Tuan nan puan akan segera sembuh

Daun yang jatuh akan membenci angin Tidak, ia hanya berusaha tegar Dihujani, diterpa, ditumpu, diinjak, didamba

Menepi pada jalan-jalan berair Tersenyum pada pelangi Ia pun temukan cakrawala Di jalanan yang berbeda

Daun yang jatuh tidak akan membenci angin Ia berterimakasih, memeluk, nan berkata, “Sekarang adalah sudah, esok kita buat kerja yang lebih nyata.”

 

PERPISAHAN – karya Eka Pascia

Angin berhembus dengan kencangnya Membuat dedaunan kering berguguran Mereka meninggalkan ranting juga yang lain Meninggalkan jejak keberadaan mereka

Hari ini mereka bersedih Perjuangannya Kisahnya Seakan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka

Ingatkah hari itu Kita berjuang bersama Untuk tujuan yang sama Akankah hari itu kembali?

Kita akan berjalan sendiri Membuka lembaran yang baru Tetapi satu yang kutau Kita akan bertemu lagi dilain waktu

 

HARAPAN SANG ANGIN – karya Adelia Berlian Desinta P.

Daun…. Seiring berjalannya waktu engkau memudarkan warnamu Engkau yang dulunya berwarna hijau dengan indahnya harus berganti warna termakan oleh waktu Dan saat musim gugur tiba yang mengharuskan engkau berpisah dengan Sang pohon pujaan Andai aku menjadi angin yang dapat menerbangkanmu bersama dengan pohon terkasih Tapi aku hanyalah hembusan angin yang tak berdaya yang hanya bisa menerbangkan dan tidak akan bisa membuatmu hidup dan menyatu utuh seperti semula Satu hal yang perlu diingat bahwa kami tidak akan melupakan jasa dan pengorbananmu selama ini seperti Sang pohon yang tak akan melupakan jasa daunnya

 

GUGURPUN TAKKAN HILANG – karya Berlyana Dwi Annisa F.

Yang diharap berakhir nyata Menjadi satu dalam kehangatan Ditengah Riuh nya persoalan Rimbunnya daun akan gugur seiring waktu Namun tak lekang oleh kita yang tetap satu

Gugurpun takkan hilang Semuanya akan tetap terkenang Bersama, tumbuh dan berkembang Berharap berpisah takkan ada makna Karena akan ada waktu yang selalu jadi jawabannya Untuk kita selalu bersama

 

TELAH USAI – karya Elsadhai Bela

Sekarang usai sudah tugas kalian. Terimakasih atas kerja sama yang baik, dan terimakasih telah mau memegang tanggung jawab yang besar. Kami salut karna kalian semua sudah menjalankan tugas dengan sepenuh hati.

Sekarang adalah giliran adik kalian untuk menjadi penerus OSIS yang baru. Kalian bukan untuk digantikan, tetapi harus ada generasi penerus yang menjalankan tugas kalian. Maka simpan baik-baik kenangan yang sudah kalian dapat

 

JIWA SETIAP ANAK NEGERI – karya Akna Mafaid Ilmi

Seberkas cahaya dari sang Surya. Yang memancarkan indah kepada sang semesta. Namun, begitu susah untuk berjumpa. Dan begitu singkat dirasakan.

Terpaan angin mengurai daun yang berguguran. Hembusan cakrawala menyentuh kalbu. Sore itu, kelabu warnanya Hingga orang rela menunggunya. Demi secercah cahaya yang begitu indah darinya.

Namun, kadang ia tak datang bersama sinarnya. Mungkin semesta melarangnya Seberkas cahaya mulai memudar dari peraduannya. Tak terasa angin memberikan rasa.

Namun, apa daya Semesta tak menghendakinya. Tetesan air menyerbu bumi. Memaksa awan menangis singkat atau lamakah itu?

namun bagi kami, begitu lama pengabdianmu dan teramat besar jasamu. bak kapal kayu yang terombang ambing dilautan. diterpa badai dan taufan sekalipun. kapal itu tetap kokoh berjuang sampai ke tepian.

walau nantinya, ia hanya tinggal sebuah papan. itu..itulah gambaran sifatmu. yang tetap teguh, setia dan pantang menyerah sampai detik ini. walau sejuta terpaan menghadang dan walau balasan jasamu tak seperti yang kau harapkan.

Pengabdianmu bagai mentari Yang terbit dan terbenam setiap hari Menerangi bumi tiada henti Seperti jasa mu yang menerangi jiwa setiap anak negeri

Pengumuman Lain